Kompas Cyber MediaKCM Webstore
KOMPAS Online
 
Kompas Cyber Media
English Nederlands
>Senin, 31 Desember 2001

Rien Samudayati
Bermula dari Cita Rasa Keindahan

Kompas/putu fajar arcana
RUMAH kecil di ujung Gang Kertorahayu Jalan Gajayana, Malang, senantiasa terlihat sepi. Penghuninya Prof Dr Bambang Guritno (56) dan istrinya Rien Samudayati (54) jarang terlihat. Sebagai Pembantu Rektor IV Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang dan pengajar di Fakultas Pertanian, Bambang sangat sibuk di luar rumah. Kesibukan Bambang tahun 2002 mungkin bertambah-tambah, karena ia menang dalam pemilihan rektor Unibraw pada bulan November 2001 lalu.Sementara Rien nyaris tak bisa diam. Selain berburu berbagai jenis kerajinan ke pelosok desa, di rumah warisan orangtuanya itu, Rien mengumpulkan puluhan perajin. Mereka kemudian diberi keterampilan untuk mengerjakan kerajinan-kerajinan rancangan Rien yang kemudian diberi merek Rien's Craft.

Kesibukan di dalam rumah tampak bertambah-tambah saat-saat menjelang Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru 2002. "Saya banyak menerima pesanan parcel. Sampai saya tolak lho," tutur Rien Samudayati sembari berlalu. Tiga orang ibu muda tampak memasuki rumah galeri.

Di ruangan itu, persisnya ruang tamu, dipajang berbagai jenis produk kerajinan rancangan Rien. Sebut saja dari rangkaian bunga kering, bunga dari berbagai jenis limbah, sarung bantal, gorden, serta berbagai perlengkapan tulis-menulis yang berbahan daun atau pelepah pohon. "Semua rancangan saya berkesan akrab dengan lingkungan," katanya.

Parcel rancangan Rien tak sembarangan. Ia hanya bersedia merancang parcel-parcel khusus alat rumah tangga dan perlengkapan tempat tidur. "Saya harus tanya dulu kepada pengirimnya, mereka yang dikirimi itu suka warna apa dan cat rumahnya warna apa," tutur Rien. Perempuan lulusan arsitektur Universitas Tri Sakti Jakarta ini beranggapan parcel tak sekadar hadiah, tetapi juga citra bagi si pemberi dan penerima. "Karena itu harus dirancang dan disesuaikan dengan cita rasa keindahan yang bersangkutan," ujarnya.

***

TAHUN 1975 ketika keluarga ini memutuskan pindah dari Jakarta ke Malang, Bambang khawatir istrinya tak punya kesibukan. Sementara untuk pindah ke Malang, Rien harus rela meninggalkan profesinya sebagai arsitek. "Selain itu, saya khawatir ia terlalu sering di luar rumah kalau masih jadi arsitek di Malang," kata Bambang Guritno.

Maka sejak tugas belajar ke Belanda, Bambang selalu membawa oleh-oleh buku-buku seni kerajinan merangkai bunga kering. Buku-buku itu sangat sulit didapatkan di Indonesia pada tahun-tahun 1970-an. Bambang juga membawakan buku-buku serupa dari Perancis dan Jepang.

"Saya kemudian benar-benar mendalami dan mencintai kerajinan tangan ini," tutur ibu satu anak ini, kembali ia sambil berlalu. Sepintas Rien tak pernah serius jika diajak berbicara soal usahanya. Setelah bertutur beberapa kata, ia segera memberi instruksi kepada puluhan perajin.

Sejak era tahun 1980-an, hasil belajarnya dari buku mulai tampak. Rien bahkan mengembalikan kepiawaiannya merangkai bunga kering kepada warga Belanda. Barang-barang kerajinannya mulai diekspor ke Belanda, Malaysia, dan Singapura. Barangkali sampai kini Rien menjadi satu-satunya perajin bunga kering dengan kapasitas ekspor di Kota Malang.

Rien memang tak menyebut secara pasti jumlah produksi kerajinannya setiap bulan. Tetapi, mempertimbangkan kuantitas menjadi tidak penting ketika kita mengerjakan benda-benda yang diberi sentuhan seni. Yang dihargai bukan jumlah, namun curahan hati yang membentuk citra keindahan itu.

Bagi kalangan pencinta keindahan, soal harga kemudian tak masalah. Karena itulah, menjadi wajar jika harga lukisan bisa mencapai Rp 1 milyar. Tentu hal itu terjadi bukan karena perhitungan ongkos dan upah produksi.

"Barang-barang saya memang agak mahal dibanding yang lain. Tetapi, itu saya kerjakan dengan sungguh-sungguh dan eksklusif. Lain waktu, kalau memesan barang yang sama, hasil rancangannya bisa berbeda," kata perempuan asli Malang itu.

***

KESIBUKAN alumnus SMU Tarakanita Jakarta ini tak berhenti di situ. Sejak beberapa tahun belakangan ia merancang sebuah wisata agro terpadu di kawasan Batu. Lahan seluas hampir satu hektar yang dahulu dijadikan tempat penelitian suaminya, ia sulap menjadi arena wisata agro.

Sejumlah penduduk setempat diminta mengurus lahan dengan menanam berbagai jenis sayuran dan bunga anggrek. Rien tak hanya membangun pondok untuk tempat bermalam, tetapi juga membangun padepokan kecil untuk pelatihan berbagai jenis keterampilan merangkai bunga kering.

Para turis yang datang, terutama turis asing, tidak hanya disuguhi perkebunan sayur yang hijau, tetapi juga tergerai berbagai jenis kerajinan produksi penduduk di sekitar Batu. "Sampai sekarang lokasi ini masih menjadi tempat penelitian mahasiswa saya. Jadi sebagian tanamannya memang untuk tujuan penelitian," kata Bambang Guritno.

Lahan satu hektar memang tak begitu luas jika dibanding kawasan Kusuma Agrowisata yang menawarkan buah apel. Tetapi, upaya perpaduan dan pemberdayaan penduduk sekitar yang dilakukan Rien bukanlah pekerjaan asalan. Rien mengatakan, turis-turis yang datang memang tidak rutin. "Ah, itu hanya sambilan. Yang penting memberi kesibukan kepada mereka ini," katanya sembari menunjuk beberapa petani penggarap lahannya.

Rien menyajikan semuanya dengan sentuhan penuh keindahan. Sebelum Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menyadari, Rien telah memadukan antara seni, pariwisata, dan potensi agro. Kini Pemkot Batu di bawah Pejabat Wali Kota Imam Kabul, sedang gencar-gencarnya berkampanye untuk mengembangkan potensi agrowisata di daerahnya.

Rien mengatakan, pariwisata dan seni bagai dua sisi mata uang yang nyaris tak bisa dipisahkan. Bali bisa meluncur menjadi daerah tujuan wisata internasional, karena memiliki potensi kebudayaan, khususnya kesenian, yang tiada habisnya untuk dieksplorasi. Batu sejak dahulu dikenal sebagai daerah pertanian. Maka, pariwisata harus dibangun di atas sendi-sendi pertanian yang menjadi sumber penghidupan sebagian besar masyarakatnya. Dan dari pertanian itu pula seni yang dikembangkan Rien dimulai. (Putu Fajar Arcana)


Berita jatim lainnya :


KCM Produk
KOMPAS Online
© C o p y r i g h t   1 9 9 8   Harian Kompas